Tanggung Jawab Pegawai Negeri Sipil

Saturday, November 15th 2014. | Berita

tanggung jawab pegawai negeri sipil

Fenomena Pegawai Negeri Sipil memang begitu luar biasa di mata masyarakat umum. Gengsi yang tinggi juga tunjangan yang menggiurkan menjadi daya tarik utama mengawa orang rela meneteskan peluh demi pekerjaan ini. Namun, dibalik hingar bingar kebanggaan menjadi seorang Pegawai Negeri Sipil, ada banyak tanggung jawab yang harus diemban oleh sang abdi Negara.

Seorang Pegawai Negeri Sipil wajib hukumnya untuk setia dan taat sepenuhnya, tanpa argument apapun, kepada Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945 (UUD 1945), Negara, dan pemerintah. Pancasila adalah harga mati yang harus dihormati oleh Pegawai Negeri Sipil. Dasar Negara Indonesia ini harus dijunjung tinggi dan dibela sampai mati oleh Pegawai Negeri Sipil, dan masyarakat Indonesia, pada umumnya.

Banyak anggapan bahwa menjadi Pegawai Negeri Sipil artinya tunduk kepada pemerintahan. Memang bisa dikatakan demikian, karena taat pada pemerintahan adalah kewajiban seorang Pegawai Negeri Sipil. Jika seseorang sudah masuk ke dalam sistem, maka yang bisa dilakukan hanya dua hal, yaitu mengikuti arus atau terhempas oleh arus. Demikian sebabnya, mengapa para Pegawai Negeri Sipil yang memiliki idealism tinggi banyak tersisihkan oleh keadaan. Bukan oknum yang salah, tapi system yang memaksanya untuk terhempas. Karenanya, banyak argument yang menyatakan bahwa Pegawai Negeri Sipil, bukanlah pekerjaan yang pantas atau cocok bagi mahasiswa yang semasa kuliahnya memiliki idealism tinggi dan hobi mengkritisi pemerintahan. That’s just an anekdot.

Pegawai Negeri Sipil juga wajib mengutamakan kepentingan Negara di atas kepentingan golongan ataupun diri sendiri. Pegawai Negeri Sipil juga wajib menghindarkan segala sesuatu yang dapat mendesak kepentingan Negara oleh kepentingan golongan, diri sendiri, atau pihak lain. Ketika seorang warga Negara Indonesia sudah mantap untuk memilih dan melangkah untuk berjuang menjadi seorang Pegawai Negeri Sipil, yang harus ditanamkan di dalam benaknya adalah, nanti, dia bukan lagi hanya milik keluarganya, tetapi juga milik Negara. Ketika Negara lebih membutuhkannya, maka perihal keluarga pun harus dikesampingkan dan dinomorduakan. Tak ada lagi golongan, tak ada lagi individu, tak ada lagi pihak lain, yang ada hanya pengabdian kepada Negara.


Facebook Google + Twitter
Tags: , ,